Untuk pertama kalinya, laporan penilaian (
scorecard) yang
dirilis WWF memasukkan perusahaan dari Amerika bersama perusahaan Eropa,
Australia dan Asia ke dalam penilaoan global, yang berisi gambaran
bagaimana pembeli minyak sawit dapat mendukung kelestarian. Laporan
penilaian yang berjudul
“Palm Oil Buyers Scorecard 2013” ini dirilis saat pembukaan konferensi tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ke-11 di Medan (12/11).
Walaupun kemajuan telah terjadi pada banyak perusahaan, harus diakui
bahwa suplai terhadap kelapa sawit yang bersetifikat lestari masih tidak
sebanding dengan penawaran yang ada. Dalam laporan penilaian tersebut,
dapat dilihat perusahaan mana saja yang tidak mengambil langkah bijak
untuk mengatasi hal tersebut. Padahal, perusahaan-perusahaan tersebut
harus memenuhi jadwal pencapaian target 100% suplai kelapa sawit
berkelanjutan pada tahun 2015.
Laporan “Palm Oil Buyers Scorecard 2013” menyebutkan bahwa hanya 9 dari
130 perusahaan — Ecover, Ferrero Trading, Henkel, REWE Group, Hershey,
IKEA, Reckitt Benckiser, Unilever and United Biscuits — yang melaporkan
kebijakan mereka untuk mengatasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan
oleh sawit yang mereka gunakan. Lebih lanjut, 49 perusahaan lainnya
sudah memulai langkah untuk mengharuskan suplier mereka untuk menerapkan
peraturan emisi yang ditetapkan RSPO.
Laporan ini juga mengurutkan 78 produsen dari produk yang mengandung
kelapa sawit dan 52 perusahaan ritel berdasarkan keanggotaan RSPO dan
kepatuhan mereka dalam pelaporan, pencapaian target dan tindakan yang
dilakukan untuk menggunakan 100% sawit yang berkelanjutan, serta
kebijakan dan rencana untuk membatasi emisi gas rumah kaca dari produksi
mereka. Selain itu, lebih dari 2/3 produsen dan pengusaha ritel yang
dinilai telah menyatakan komitmen mereka untuk menggunakan 100% sawit
yang bersertifikat lestari pada 2015. Empat puluh lima dari 130
perusahaan yang dinilai sudah menggunakan 100% CSPO — sekitar 2 juta ton
minyak sawit dalam setahun. Namun secara keseluruhan, 130 perusahaan
tersebut menggunakan sekitar 7 juta ton kelapa sawit dalam setahun.
Fakta ini menggambarkan masih jauhnya target komitmen tersebut dicapai.
Palm Oil Leader WWF-Internasional, Adam Harrison, mengatakan, “Ini
adalah tahapan kritis bagi RSPO. Pembeli progresif kelapa sawit mulai
meminta perkebunan untuk melakukan lebih dari standar RSPO untuk isu-isu
seperti tidak membeli kelapa sawit dari sumber yang tidak diketahui
asal-usulnya, meminimalisir penggunaan zat kimia berbahaya dan
pengurangan emisi gas rumah kaca. Perkebunan perlu dihargai atas upaya
mereka—sayangnya banyak pembeli yang bahkan tidak membeli kelapa sawit
yang bersertifikat RSPO.”
“WWF berharap banyak perusahaan menggunakan data dari RSPO untuk mulai
membeli dari anggota RSPO yang memiliki kinerja baik. Namun yang pertama
yang perlu mereka lakukan adalah membeli pasokan CSPO yang saat ini
tersedia di pasaran”, lanjut Adam.
Sebagai langkah awal, WWF percaya sertifikat
“Book&Claim”
adalah langkah untuk mengirimkan sinyal pasar dalam mendukung produksi
berkelanjutan, sehingga skala ekonomi yang dicapai dapat membantu
seluruh industri untuk mengarap rantai pasok minyak sawit yang awal
produksinya terpisah dari yang tidak sertifikasi (tersegregasi/
segregated).
Hanya saja, WWF berharap adanya proses yang lebih cepat dari
perusahaan-perusahaan untuk menggunakan CSPO yang tersegregasi.
Perusahaan yang menjadi contoh baik praktik ini adalah Heinz dan United
Biscuits, perusahaan kimia Iwata, Ferrero Trading yang memproduksi
Nutella, dan perusahaan ritel Waitrose.
Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Carrie Svingen, WWF-Internasional
Email:
csvingen@wwf.panda.org, Hp: +49 151 188 54 833